Ikan sidat tidak hanya dikenal di Indonesia. Di banyak negara, sidat adalah bahan pangan yang punya tempat khusus dalam tradisi kuliner, mulai dari hidangan perayaan hingga makanan musiman. Cara orang mengolah dan menyantapnya berbeda-beda, tetapi ada satu benang merah: sidat umumnya dianggap bahan pangan yang istimewa.
Berikut gambaran tradisi kuliner sidat di beberapa belahan dunia, sebagai cara memahami posisi ikan ini dalam budaya pangan.
Jepang: Unagi dan Tradisi Musim Panas
Di Jepang, sidat air tawar dikenal sebagai unagi. Hidangan paling populer adalah kabayaki, yaitu sidat yang difillet, dibumbui, lalu dibakar dengan saus manis berbahan dasar kecap. Kabayaki biasa disajikan di atas nasi dalam hidangan yang disebut unadon atau unaju, menggunakan kotak lacquer.
Yang menarik, unagi punya kaitan dengan penanda musim. Ada tradisi menyantap unagi pada hari tertentu di pertengahan musim panas, yang dalam penanggalan Jepang disebut doyo no ushi no hi. Tradisi ini menjadikan unagi bukan sekadar makanan, tetapi bagian dari ritme tahunan masyarakat Jepang.
Korea: Jangeo-gui yang Dibakar di Meja
Di Korea, sidat dikenal sebagai jangeo dan sering disajikan sebagai jangeo-gui, yaitu sidat yang dibakar lalu dimakan dengan bumbu, daun bawang, dan sayuran pembungkus. Sidat air tawar (minmul jangeo) dianggap berbeda dari sidat laut dan biasa dihidangkan pada momen berkumpul. Cara makannya yang dibakar langsung di meja restoran membuat hidangan ini punya pengalaman bersantap tersendiri.
Tiongkok dan Asia Timur: Sidat di Meja Perjamuan
Di Tiongkok, olahan berbahan sidat muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari tumisan hingga hidangan berkuah. Perlu dicatat satu hal penting agar tidak keliru: dalam masakan Tiongkok, istilah yang diterjemahkan sebagai “eel” kadang merujuk pada belut sawah (keluarga Synbranchidae), yang secara biologi berbeda dari sidat sejati. Penggunaan bahan yang berbeda ini sering terlewat ketika kita membaca menu atau artikel terjemahan.
Eropa: Dari Asap Belanda sampai Perayaan Italia
Di Eropa, sidat memiliki jejak panjang dalam masakan tradisional. Di Belanda dan Jerman, sidat diasap (gerookte aal atau Räucheraal) dijual di pasar dan disantap dengan roti. Di Inggris, jellied eels—sidat rebus yang disajikan dalam gelatin alami—pernah menjadi makanan khas kalangan pekerja di London, khususnya di kawasan East End.
Di Italia, sidat berukuran besar yang disebut capitone menjadi hidangan khas pada perayaan malam Natal. Sementara di Spanyol, terutama di wilayah Basque, hidangan berbahan benih sidat yang dikenal sebagai angulas memiliki nilai jual sangat tinggi. Sayangnya, praktik ini juga menjadi salah satu contoh tekanan berat terhadap populasi benih sidat di alam, sehingga perbincangan soal kelestariannya tidak bisa dipisahkan dari tradisi tersebut.
Asia Tenggara dan Indonesia
Di Asia Tenggara, sidat dijumpai dalam masakan rumah maupun warung, misalnya dibakar, digoreng, atau diolah menjadi sup dan pepes dengan bumbu lokal. Di Indonesia sendiri, sidat tumbuh sebagai bahan pangan yang dipasarkan dalam bentuk segar maupun produk olahan, seiring berkembangnya usaha budidaya.
Persamaan di Antara Tradisi-Tradisi Itu
- Sidat umumnya diolah dengan cara yang menonjolkan teksturnya yang khas dan gurih.
- Banyak tradisi menempatkan sidat sebagai hidangan musiman atau hidangan perayaan.
- Metode pengolahan yang dominan adalah pembakaran, pengasapan, dan perebusan berbumbu.
- Perbincangan soal keberlanjutan sumber bahan baku muncul di hampir semua negara.
Di Taiwan, sidat juga menjadi komoditas pangan yang cukup dikenal, dengan olahan berupa sidat bakar bersaus manis yang disajikan di atas nasi. Sementara di beberapa negara Eropa utara, sidat asap tetap dipertahankan sebagai produk pasar tradisional yang dijual dalam bentuk potongan siap santap.
Mengapa Tradisi Ini Menarik untuk Dipelajari
Melihat cara berbagai budaya memperlakukan satu jenis ikan memberi konteks lebih luas tentang cara kita menyantapnya di rumah. Sebuah hidangan yang tampak sederhana ternyata membawa sejarah perdagangan, kebiasaan musiman, dan tantangan kelestarian. Bagi konsumen, memahami konteks ini membantu menilai produk sidat dengan lebih sadar, termasuk soal asal bahan baku dan cara pengolahannya.
Kesimpulan
Sidat hadir di meja makan banyak negara dengan wajah yang berbeda: unagi di Jepang, jangeo-gui di Korea, sidat asap di Belanda dan Jerman, capitone di Italia, hingga sidat bakar berbumbu di Indonesia. Keragamannya menunjukkan bahwa ikan yang sama bisa menjadi bagian dari identitas kuliner yang sangat berbeda, tergantung pada cara masyarakat setempat mengolah dan memaknainya.
Catatan: Artikel ini bersifat edukatif dan membahas tradisi kuliner secara umum. Untuk informasi terkait status kelestarian sumber daya sidat dan ketentuan peredarannya, rujuk ke otoritas perikanan serta ketentuan izin edar pangan yang berlaku.

